Rasanya, seperti jingga pada senja yang terenggut malam. Langkahnya melambat, tatapannya memberi binar kaca sebab air mata. Katamu, ini bukan sebuah perpisahan selamanya. Hanya sementara, hingga kita menuai menang bersama.
Sesaat, ribuan kata tertahan dirongga mulut, sukar terlontar, sesak didada. Hingga hanya punggungmu yang terlihat, jelas, perlahan samar, lalu hilang diantara kerumunan orang-orang.
Hingga kini, ucapku rindu kembali, kepadamu, sayangku.-